Senin, 07 April 2014

5 Tanda Autistik

Tanda-tanda berikut ini bisa dikenali sejak bayi berusia 1 tahun ke atas. Apabila Anda menemukan salah satu tanda berikut ini, Anda patut "curiga". Konsultasikan hal ini kepada dokter anak Anda.

Minggu, 06 April 2014

Pelukan Baik Untuk Perkembangan Anak


Sudah berapa kali Anda memeluk anak hari ini? Pelukan  merupakan obat mujarab untuk mengurangi rasa sakit dan membuat anak tumbuh percaya diri dan bahagia.


Jumat, 28 Maret 2014

8 Superfood Tingkatkan Kualitas ASI (Part 2)

ASI adalah makanan terbaik bagi bayi Anda. Bagaimana cara mengoptimalkan kualitas ASI Anda? Salah satunya adalah memilih makanan yang tepat. 

Kamis, 27 Maret 2014

8 Superfood Tingkatkan Kualitas ASI (Part 1)

ASI adalah makanan terbaik bagi bayi Anda. Bagaimana cara mengoptimalkan kualitas ASI Anda? Salah satunya adalah memilih makanan yang tepat. 

Selasa, 25 Maret 2014

Manfaat peraturan Bagi Si Kecil

Sebagian dari orang tua, telah membuat peraturan bagi si kecil. Peraturan akan memudahkan kita dalam mendidik anak. Sebenarnya, apa saja manfaat yang bisa dipetik dari peraturan bagi si kecil ini?

1. Anak Belajar bertanggungjawab

Peraturan yang dibuat tentu saja tidak kita buat sendiri. Tidak seperti peraturan di kantor yang kebanyakan dibuat oleh atasan-atasan kita. Peraturan buat si kecil harus dibuat secara bersama, yaitu antara orang tua dan anak, tentu saja disepakati secara bersama. Dengan adanya peraturan yang telah disepakati bersama, maka anak pun akan belajar bertanggungjawab.

Senin, 24 Maret 2014

Tips Pendidikan Anak Usia Dini

Berfokus pada pendidikan anak Anda telah menjadi hal yang lebih penting sekarang daripada sebelumnya. Anda tidak hanya memastikan bahwa anak-anak Anda pergi ke sekolah terbaik tetapi juga memastikan bahwa pendidikan mereka menyediakan mereka dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk masa depan.

Minggu, 23 Maret 2014

Cara membersihkan telinga yang baik pada bayi

Cara membersihkan telinga pada masing – masing orang memanglah berbeda – beda sehingga sebagian orang juga melakukan cara membersihkan telinga yang salah. Cara membersihkan telinga yang salah inilah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan pada organ telinga. Salah satu gangguan telinga yang banyak dialami oleh seorang bayi yaitu

Sabtu, 22 Maret 2014

Memulai Makanan Padat (MPASI)

Health Canada, Canadian Pediatric Society, American Academy of Pediatrics, IBFAN, UNICEF, WHO Global Strategies on Infant Feeding dan sebagian besar ikatan dokter anak di seluruh dunia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai dengan enam bulan. Banyak tenaga kesehatan yang menyarankan pemberian makanan padat sejak usia empat bulan; banyak juga yang sekarang mengatakan jangan memberikan makanan padat sebelum usia enam bulan. Bagaimanapun, kebanyakan bayi baik-baik saja dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan atau bahkan sedikit lebih lama. Sebaiknya Anda mulai memberikan makanan padat saat bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk makanan makanan padat, bukan berdasarkan kalender. Berikut pembahasannya.

Jumat, 21 Maret 2014

Solusi Mudah Agar Anak Anda Tidak Sering Jajan di Luar

Banyak mengkonsumsi jajanan di luar rumah dapat membahayakan kesehatan anak Anda. Oleh karena itu sebagai orang tua yang baik Anda wajib mengetahui solusi tepat agar anak Anda tidak sering jajan di luar.

Buatlah Bekal Makanan yang Menarik

Pentingnya Pemenuhan Gizi Sejak Usia Dini

KOMPAS.com - Setiap orangtua pasti mendambakan buah hatinya tumbuh sehat dancerdas hingga kelak ia dewasa. Untuk mencapai target tersebut, tentu para orangtua membutuhkan dan menerapkan “strategi” yang tepat. Salah satunya pemenuhan gizi sejak dini.

Seperti dikatakan Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, ahli gizi medis dari Perhimpunan NutrisiIndonesia serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tumbuh-kembang anak dipengaruhi oleh pemenuhan gizi tidak hanya sejak lahir, akan tetapi justru sejak terjadinya kehamilan.

Nah, berikut ini beberapa manfaat dari pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, yaitu:

-Memelihara kesehatan

Gizi terkait erat dengan kesehatan yang optimal serta peningkatan kualitas hidup. Bahkan dalam proses pengobatan, gizi membantu sebagai upaya uamg efektif dalam pemulihan. Berdasarkan perkembangan ilmiah dibidang medis dan biologi molekul, gizi ternyata dapat menjaga fungsi optimal tubuh serta mencegah atau membantu penanganan penyakit.

-Meningkatkan kekebalan tubuh

Nutrisi yang baik dapat memberikan tubuh akan bahan gizi yang dibutuhkan sel-sel kekebalan untuk melawan kuman penyakit. Jadi, tubuh akan memiliki sistem kekebalan sehingga lebih kuat ketika terpapar kuman, virus ataupun lainnya. Tubuh jadi tak mudah sakit dan terjaga terus kesehatannya.

-Sumber energi

Asupan gizi yang baik dengan pola makan yang sehat dapat menghasilkan tambahan daya untuk digunakan aktivitas sehari-hari. 

Cegah kurang gizi

Sebaliknya, kurang gizi, berdampak kurangnya zat-zat yang dibutuhkan tubuh sehingga anak berisiko mengalami gangguan gizi. Kurang gizi sebagai kondisi karena kurangnya nutrisi penting.

Kurang gizi membuat tubuh lemah sehingga mudah terserang penyakit. Efek selanjutnya, memengaruhi pertumbuhan, kesehatan fisik, fungsi-fungsi tubuh, perilaku bahkan suasana hati. Kurang gizi juga menimbulkan risiko infeksi dengan diare, malaria, campak, serta infeksi saluran napas pada anak-anak.

Seperti dikutip http://www.news-medical.net, gizi buruk atau malnutrisi menjadi penyebab kematian terhadap lebih dari sepertiga anak di seluruh dunia. Masalah kurang gizi menjadi penyebab penyakit dan kematian di seluruh dunia yang melibatkan populasi terbesar dari anak-anak dan wanita hamil. Kekurangan gizi penyebab kematian 300.000 orang di seluruh dunia.

Secara umum, seseorang yang mengalami kurang gizi mengalami penurunan berat badan dalam tiga bulan terakhir hingga 10 persen. Gejala yang tampak berupa kelelahan, anemia, perubahan kulit, rambut dan kuku. Anak dengan kurang gizi juga tampak kurang mampu berkonsentrasi, tinggi badan kurang aau terhambat pertumbuhannya.

Untuk mengetahui kurang gizi atau tidak, dilakukan pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT) atau BMI (body mass index). Perhitungan berat badan anak selain menggunakan IMT juga memerlukan grafik tumbuh kembang yang disebut dengan grafik IMT-persentil. Selain itu, grafik tersebut berbeda antara perempuan dan laki-laki .Tes diagnostik lainnya termasuk tes darah rutin untuk deteksi anemia, infeksi kronis dan lain-lain.

Untuk mencegah hal tersebut, perlu strategi atau perencanaan pola makan dengan gizi seimbang. Dengan begitu, diharapkan hal-hal yang tak diinginkan tersebut tak terjadi pada buah hati kita.

Sumber : http://health.kompas.com/

Jangan menyusui anak hingga berusia lebih dari 2 tahun!

Merdeka.com - Sebuah penelitian seperti dilansir dari torontosun.com menyebutkan bahwa anak-anak yang disusui hingga melewati usia lebih dari 2 tahun akan memiliki kemungkinan besar untuk menderita gigi berlubang atau bentuk lain dari kerusakan gigi.

Penelitian yang dilakukan di Porto Alegre, Brasil ini menggunakan 458 keluarga berpenghasilan rendah sebagai sampel penelitiannya. Dan penelitian ini menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI selama lebih dari 2 tahun berisiko tinggi untuk terkena kerusakan gigi.

"Ketika menyusu, gigi dan mulut bayi akan menempel dalam waktu yang lama di puting si ibu. Bahkan kecenderungan, mulut bayi akan menempel dalam waktu semalaman. Hal inilah yang kemudian menghalangi produksi air liur. Padahal air liur berfungsi untuk menghilangkan bakteri penyebab kerusakan gigi di dalam mulut," jelas William Bowen, peneliti Center for Oral Biology at the University of Rochester Medical Center di New York.

Atas kecenderungan inilah, maka dia menyarankan agar orang tua segera menyapih bayi dari ASI di usia yang tepat. Dan tidak lupa untuk membawa anak mereka untuk melakukan kegiatan pemeriksaan gigi ketika gigi pertama mereka muncul atau selambat-lambatnya di ulang tahun pertama mereka.

Sumber : http://www.merdeka.com/

Kamis, 20 Maret 2014

Raja yang Meredam Kekacauan Dunia

Kita sering terheran dengan simbol-simbol mitologi China karena di mana pun di dunia, raja dari segala binatang adalah singa, bukan macan. Konon, menurut legenda China pada zaman dahulu kala, singa termasuk salah satu shio dari 12 binatang dalam kepercayaan masyarakat China. Tidak ada macan.

Karena singa itu terlalu kejam, Dewa Utama mau menyingkirkan singa dari struktur shio. Tetapi Dewa Utama tidak bisa begitu saja melakukannya karena singa adalah raja dari segala raja binatang. Kalau singa mau disingkirkan, perlu binatang baru untuk mengontrol binatang-binatang yang ada. Dia teringat sama macan.

Macan sendiri adalah makhluk yang tidak penting di dunia manusia, lanjut legenda yang ada. Namun, ketika macan belajar keahlian bertarung dari kucing, sang macan menjadi ksatria gagah berani. Semua binatang yang menantang dia akan mati atau luka parah sekali. Macan yang selalu menang dalam perkelahian menjadi terkenal karena keahliannya.

Karena macan menjadi sangat terkenal, Dewa Utama memanggilnya ke kahyangan. Setibanya di sana, macan pun berhasil mengalahkan semua ksatria Dewa Utama. Setelah memenangkan semua pertempuran, macan pun menjadi salah satu ksatria penting Dewa Utama.

Aksara raja

Namun, setelah macan menjadi salah satu ksatria penting Dewa Utama, binatang-binatang di dunia mulai menyerang manusia karena kurangnya pengawasan. Berbagai kejadian telah menarik perhatian Dewa Utama, dan kemudian memerintahkan turun ke bumi untuk melindungi umat manusia.

Macan kemudian meminta persyaratan untuk setiap perkelahian yang dimenangkan, ia ingin mendapat penghargaan. Permintaannya dikabulkan oleh Dewa Utama. Setelah tiba di bumi, macan mempelajari kalau singa, beruang, dan kuda adalah binatang paling kuat. Macan menantang semua dan menang.

Ketika berbagai makhluk jahat mendengar kemenangan macan, semua bersembunyi di hutan yang tidak berpenghuni dan tidak pernah terlihat lagi. Seluruh umat manusia berterima kasih kepada macan karena mengalahkan makhluk-makhluk jahat.

Macan pun kembali ke kahyangan. Karena macan telah menang tiga kali, Dewa Utama menempatkan tiga garis utama di kening sang macan. Lewat beberapa waktu, dunia kembali dikacaukan oleh seekor kura-kura yang memiliki kekuatan magis jahat. Bumi dibanjiri air bah oleh kura-kura tersebut.

Macan kembali dikirim ke bumi dan membunuh kura-kura jahat tersebut. Dewa Utama kemudian memberikan penghargaan dengan menambah garis horizontal di tengah tiga garis yang dihadiahkan di kening macan. Penambahan garis ini membentuk aksara China ”wang” yang berarti raja. Aksara kanji ”wang” ini sampai sekarang masih terlihat di kening macan.

Ketika Dewa Utama mendengar kebrutalan singa di dunia, diputuskan status shio singa dicopot dan macan dipilih untuk menggantikan singa dalam strata shio kepercayaan China. Selain memiliki status shio, macan pun dinobatkan sebagai raja dari segala binatang. Macan dalam legenda China disimbolkan sebagai peredam kekacauan yang terjadi di bumi

Kisah Nabi Sulaiman Dan Semut

Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud Hud dan juga boleh memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An Naml, ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya raya ini. Firman Allah, Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata, hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa kerana mendengar perkataan semut itu. Katanya, Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh. (An-Naml: 16-19)

Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun? Sebesar biji gandum, jawabnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu. Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya? tanya Nabi Sulaiman. Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah, jawab si semut. Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.

Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya raya, namun kekayaannya adalah nisbi dan terbatas. Yang Maha Kaya secara mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat terbatas dan kenisbian yang tidak dapat dipisahkan; sementara dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.

Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa yang menyimpan kedaifan-kedaifannya tersendiri. Hal itu diketahui oleh semut Nabi Sulaiman. Kerana itu, dia masih tidak percaya kepada janji Nabi Sulaiman ke atasnya. Bukan kerana khuatir Nabi Sulaiman akan ingkar janji, namun khuatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri bulat-bulat hanyalah kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.

Rabu, 19 Maret 2014

Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini

Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini, adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak. Pendidikan Anak Usia Dini memberi kesempatan untuk mengembangkan kepribadian anak, oleh karena itu pendidikan untuk Usia Dini khususnya Taman Kanak-Kanak perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan yang meliputi kognitif, bahasa, sosial, emosi, fisik dan motorik. Anderson ( dalam 1993).

Pengalaman belajar seperti apa yang memungkinkan anak berkembang seluruh aspek perkembangannya. Menurut Pestalozzi, Pendidikan anak hendaknya menyediakan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, bermakna, dan hangat seperti yang diberikan oleh orang tua di lingkungan rumah. Dari uraian di atas anda tentunya akan dapat mencermati apa sesungguhnya hakikat Pendidikan Anak Usia Dini. Agar memperoleh pemahaman yang mendalam cermati dengan teliti makna dari hakikat pendidikan Usia Dini sebagai berikut yang dikemukakan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2002). Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Ia memiliki karakteristik yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa serta akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dalam hal ini anak merupakan seorang manusia atau individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang berbeda dengan orang dewasa. Anak memiliki berbagai macam potensi yang harus dikembangkan. Meskipun pada umumnya anak memiliki pola perkembangan yang sama, tetapi ritme perkembangannya akan berbeda satu sama lainnya karena pada dasarnya anak bersifat individual.

Ditinjau dari segi usia, anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang usia 0-8 tahun (Morrison, 1988). Standar usia ini adalah acuan yang digunakan oleh NAEYC (National Assosiation Education for Young Child). Menurut definisi ini anak usia dini merupakan kelompok yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa anak usia dini adalah individu unik yang memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio-emosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.Anak usia dini terbagi menjadi 4 (empat) tahapan yaitu masa bayi dari usia lahir sampai 12 (dua belas) bulan, masa kanak-kanak/batita dari usia 1 sampai 3 tahun, masa prasekolah dari usia 3 sampai 5 tahun dan masa sekolah dasar dari usia 6 sampai 8 tahun. Setiap tahapan usia yang dilalui anak akan menunjukkan karakteristik yang berbeda. Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak haruslah memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan. Apabila perlakuan yang diberikan tersebut tidak didasarkan pada karakteristik perkembangan anak, maka hanya akan menempatkan anak pada kondisi yang menderita. Pendidikan bagi anak Usia Dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak.

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan baik koordinasi motorik (halus dan kasar), kecerdasan emosi, kecerdasan jamak (mutiple intelelegences) dan kecerdasan spiritual.

Sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan Anak Usia Dini, maka penyelenggaraan Pendidikan bagi Anak Usia Dini disesuaikan dengan tahap tahap perkembangan yang dilalui oleh Anak Usia Dini. Berikut adalah beberapa pendapat lain mengenai Pendidikan Anak Usia Dini : “Pendidikan Anak Usia Dini, menekankan kepada anak usia dua setengah tahun sampai dengan enam tahun”. Bihler dan Snowman, dalam Diah Hartati (1996).

“Pendidikan anak Anak usia Dini, mencakup berbagai program yang melayani anak dari lahir sampai dengan delapan tahun yang dirancang untuk meningkatkan perkembangan intelektual,sosial,emosi, bahasa dan fisik anak” (Bredecamp,1997). Sedangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003) pada pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut Undang - Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003) batasan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia, adalah dari lahir sampai dengan enam tahun. Apakah Taman Kanak-Kanak termasuk Pendidikan Anak Usia Dini? Apabila melihat rentang usia TK yakni yang terentang antara anak usia empat sampai dengan enam tahun, maka Pendidikan Taman Kanak-Kanak termasuk Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam pasal 28 ayat 3 Undang - Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003) ditegaskan bahwa : “Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat”. Dengan demikian cukup jelas bagi anda bahwa TK, termasuk Pendidikan Anak Usia Dini dalam jalur pendidikan formal. Setelah mencermati apa TK, dan apa Pendidikan Anak Usia Dini, maka ada satu hal lagi yang perlu dipahami supaya wawasan anda tentang Pendidikan Anak Usia Dini lebih mantap, yaitu Kelompok Bermain. Tentu anda sudah mengenal Kelompok Bermain yang saat ini sedang berkembang pesat di tanah air khususnya di kota-kota besar. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003) ditegaskan bawa kelompok bermain ada pada rentang usia satu sampai dengan empat tahun dan berada dalam pendidikan non formal. Setelah anda memahami dengan jelas tentang persamaan maupun perbedaan tentang TK, Pendidikan Anak Usia Dini, dan Kelompok Bermain, selanjutnya anda perlu juga memahami bagaimana pandangan beberapa ahli tentang anak, dan Pendidikan Anak Usia Dini.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal yang bersifat fleksibel sering diartikan bahwa PAUD nonformal boleh dilaksanakan tanpa adanya ketentuan apapun. Anggapan tersebut tidaklah benar, karena fleksibelitas dalam PAUD nonformal lebih tertuju pada cara penyelenggaraannya, bukan pada prinsip pembelajarannya. PAUD nonformal harus bisa memberikan layanan PAUD yang murah dan mudah, tetapi bermutu. Prinsip pembelajaran PAUD nonformal adalah bermain sambil belajar, yang sesuai dengan tingkat usia, perkembangan psikologis dan kebutuhan spesifik anak, serta yang mendekatkan anak dengan lingkungannya. PAUD nonformal bukanlah sekolah yang penuh dengan aturan, melainkan taman yang menyenangkan, mengasyikan, dan mencerdaskan.

Prinsip utama PAUD nonformal adalah memberikan stimulasi pendidikan kepada anak dalam rangka melejitkan potensinya agar anak memiliki kesiapan untuk mengikuti pendidikan lebih tinggi. Perkembangan dan kualitas anak dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah faktor hereditas dan lingkungan yang termasuk di dalamnya intervensi pendidikan. Mengapa demikian? Ketika anak lahir, ia baru dibekali dengan modal yang disebut potensi, baik potensi fisik (jasmani) maupun nonfisik (akal, kalbu, dll.). Potensi tersebut baru merupakan kemampuan awal, karenanya harus ditumbuh- kembangkan melalui berbagai stimulasi atau rangsangan.

Para ahli genetika mempercayai bahwa setiap anak yang lahir membawa potensi yang diturunkan dari kedua orangtuanya dan dipengaruhi oleh gen dari orang-orang yang memiliki garis keturunan di atasnya. Namun potensi tersebut tidak akan mencapai perkembangan secara optimal tanpa adanya stimulasi (rangsangan) yang maksimal. Rangsangan yang bersifat fisik/biologis tentunya terkait dengan pemberian gizi yang seimbang. Terkait dengan gizi ini berbagai studi yang dilakukan oleh para ahli gizi menyimpulkan bahwa pembentukan kecerdasan pada masa usia dini dan dalam kandungan ternyata sangat tergantung pada asupan gizi yang diterima. Makin rendah asupan gizi yang diterima, makin rendah pula status kesehatan anak, dan rendahnya status kesehatan anak akan berpengaruh terhadap kemampuan belajar anak (Syarif, 2002). Implikasinya adalah bahwa Pendidikan Anak Usia Dini harus pula memperhatikan pemenuhan gizi anak, termasuk gizi ibunya ketika anak masih menyusu.

Rangsangan nonfisik khususnya rangsangan pendidikan merupakan rangsangan yang tak kalah pentingnya. Ascobat Gani (2002) mengungkapkan bahwa sektor pendidikan menekankan pada rangsangan terhadap aspek intelektual, emosional, spiritual dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan software (perangkat lunak) dalam rangka melejitkan potensi diri, sedangkan sektor nonpendidikan menekankan pada rangsangan misalnya terhadap aspek gizi, kesehatan, dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan hardware (perangkat keras).

Berkaitan dengan anak usia dini, terdapat beberapa masa yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang pendidik menghadapi anak usia dini, sebagai berikut:

Masa peka. Pada masa ini anak akan merespon berbagai stimulus dengan cepat karena kepekaannya yang muncul seiring dengan kematangan. Sebagian pendidik baik orang tua maupun tutor belum sepenuhnya mampu menciptakan suatu kondisi yang kondusif, memberi kesempatan dan menunjukkan permainan serta alat permainan tertentu yang dapat memicu munculnya masa peka dan atau menumbuhkembangkan potensi yang ada di masa peka.

Masa egosentris. Masa egosentris ditandai dengan sikap keakuan anak yang sangat besar, seperti seolah-olah dialah yang paling benar, keinginannya harus selalu dituruti, segalanya miliknya sendiri, dan mau menang sendiri. Orang tua harus memahami bahwa anak masih berada pada masa egosentris ini. Karenanya orang tua harus memberikan pengertian secara bertahap pada anak agar dapat menjadi makhluk sosial yang baik dengan memberi kesempatan pada anak untuk berinteraksi di lingkungannya. Misalnya dengan melatih anak untuk dapat berbagi sesuatu dengan temannya atau belajar antri/menunggu giliran saat bermain bersama.

Masa meniru. Pada masa ini proses peniruan anak terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya tampak semakin meningkat. Peniruan ini tidak saja pada perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang disekitarnya tetapi juga terhadap tokoh-tokoh khayal yang sering ditampilkan di televisi dan segala hal yang dilihat serta didengarnya. Pada saat ini orang tua atau tutor haruslah dapat menjadi tokoh panutan bagi anak dalam berperilaku.

Masa berkelompok. Pada masa ini anak senang melakukan kegiatan secara berkelompok atau team. Biarkan anak bermain di luar rumah bersama teman-temannya, jangan terlalu membatasi anak dalam pergaulan sehingga anak kelak akan dapat bersosialisasi dan beradaptasi sesuai dengan perilaku lingkungan sosialnya. Oleh karena itu orang tua sebaiknya mengkondisikan lingkungan yang baik bagi pergaulannya untuk kesempatan anak bersosialisasi dan bergaul.

Masa bereksplorasi. Masa ini ditandai dengan kegiatan anak yang menunjukkan rasa keingintahuan yang besar mengenai suatu hal. Rasa ingin tahu ini ditunjukkan dengan banyak bertanya, mengamati bahkan membongkar benda. Orang tua atau orang dewasa harus memahami pentingnya eksplorasi bagi anak. Biarkan anak memanfaatkan benda- benda yang ada di sekitarnya dan biarkan anak melakukan trial dan error, karena memang anak adalah seorang penjelajah yang ulung.

Masa Pembangkangan. Orang tua harus memahami dan mengarahkan anak saat ia mulai membangkang tetapi bukan berarti selalu memarahinya karena ini merupakan suatu masa yang akan dilalui oleh setiap anak. Selain itu bila terjadi pembangkangan sebaiknya diberikan waktu pendinginan (cooling down) misalnya berupa penghentian aktivitas anak dan membiarkan anak sendiri berada di dalam kamarnya atau di sebuah sudut. Beberapa waktu kemudian barulah anak diajak bicara mengapa ia melakukan itu semua. 
 
Sumber : http://www.psychologymania.com/

Si Kecil yang Mulai Bersosialisasi

Usia 6 – 12 bulan. Sampai usia sekitar 8 bulanan si kecil sibuk untuk terus melihat dunianya, namun responnya hanya sekedar melalui pandangannya yang lucu, senyumnya yang imut, keinginannya untuk meraih barang-barang di sekitarnya, serta ocehan-ocehan lucunya. Di usia ini juga, si kecil bisa bermain bersama-sama dengan bayi yang lain, namun terbatas dengan kemampuan di atas. Si kecil belum bisa berinteraksi, belum bisa memahami sampai tahapan berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, biasanya di akhir usianya satu tahun si kecil mengalami sifat anti sosial. Tidak mau ditinggal sendiri, dan mengekspresikan dengan tangisannya yang keras, namun kembali tenang jika ibu sudah ada di dekatnya.

Lalu pada Tahun kedua si kecil. Seiring dengan kemampuan berdiri dan berjalannya, si kecil akan semakin aktif dan tertarik dengan segala sesuatu di sekitarnya. Disertai dengan kemampuannya belajar berbicara, si kecil mulai suka bersosialisasi. Bermain dengan teman-teman sebayanya, atau mengikuti gerombolan anak-anak lainnya di sekitar lingkungannya. Namun, diusia ini juga keegoisan si kecil mulai muncul, si kecil mulai sadar tentang barang yang dimilikinya. Si kecilpun tak ingin berbagi dan ingin semua dimilikinya. Ini merupakan tahapan normal, arahkan saja perkembangannya dengan baik, tunjukkan kehidupan berbagi dan coba terus mengarahkan ke arah positif.

Anak usia 3-4 tahun masih tetap suka bermain sendiri. Tetapi dia memilih lokasi yg masih berdekatan dengan anak lain, dalam tahap ini mereka akan semakin mendekati bentuk permainanyang memerlukan kerjasama, bahkan meskipun mereka memiliki sifat yg egosentris tetapi di masa ini seorang anak sudah mulai menginginkan mainan milik temannya sehingga secara tidak langsung mereka saling mendekati dan ingin main bersama.

Pada periode ini dimana terjadi perubahan yang cepat untuk kebanyakan anak. Mereka sibuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru meraih tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Anak-anak dalam masa ini belajar untuk mengendalikan dan mengarahkan perasaannya. Secara social, mereka sudah mampu untuk diajak bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan orang dewasa, contohnya ketikamereka bermain bersama dalam kelompok mereka mampu memahami peraturan dengan lebih baik , bahkan terkadang menuntut teman lain untuk mematuhi peraturan tersebut. 

Guru dan orang tua harusnya menyadari perasaan emosi mereka dan harus sensitif terhadap ungkapan anak-anak tersebut. Suatu hal yang sulit anak-anak ini adalah untuk menyesuaikan diri dengan langkah mereka sendiri. Contoh mereka akan berusaha keras untuk melakukan banyak hal sendirian, dan perkembangan anak juga bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya dan terampil bergaul dengan teman-teman seusianya. 

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya. Selain itu Ada baiknya sejak dini orang tua mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.
Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita (3 – 5tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date. Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering.

Selasa, 18 Maret 2014

Ada Apa dengan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia?

"What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?" Begitu judul acaraseminar kecil bersama Profesor Sandralyn Byrnes dari Royal Tots Academy yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011.

Apa yang salah dengan pendidikan anak usia dini di Indonesia? Saat ini sudah ada begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang berdiri di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari yang bersertifikasi internasional, berlatar agama, hingga lainnya. Begitu banyaknya penawaran dan embel-embel tersebut, tak heran orangtua kebingungan harus memilih yang mana yang tepat untuk anak.

Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pertama, pendidikan anak usia dini tidak memiliki kurikulum yang universal," ungkap Byrnes yang merupakan kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Tidak adanya standar universal membuat begitu banyak sekolah untuk anak usia dini yang bermunculan. "Belum ada yang membuat batasan, di usia anak sekian, ia harus sudah bisa melakukan apa saja. Jadi, beda sekolah, beda standar. Padahal tak sedikit yang menggunakan embel-embel 'internasional'. Embel-embel tersebut ternyata tidak menjadi jaminan kualitasnya," papar Byrnes yang diberi gelar sebagai Australia's & International Teacher of the Year.

"Namun, pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini," terang Byrnes yang berasal dari Australia ini.

Lebih lanjut, Byrnes mengungkapkan salah satu hal yang membuatnya kecewa adalah sering terjadi power struggle (tarik-ulur kekuatan) antara anak dengan gurunya. Ini bisa menjadi indikasi bahwa kurikulum atau cara guru mengajar membuat anak tidak merasa kerasan. Seharusnya sumber daya pengajar memiliki pengetahuan bagaimana cara menghadapi anak-anak, karena setiap anak berbeda.

Menurut Byrnes, beberapa lembaga pendidikan usia dini yang ia datangi di Indonesia tidak konsisten. Bahkan, beberapa sekolah anak usia dini yang ia temui memperbolehkan pengasuhnya ikut ke dalam kelas. "Buat saya, pengasuh mengambil alih otoritas orangtua. Saya tidak menyarankan pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak harus belajar mandiri. Saya pernah melihat dalam kelas ada seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya pengambil risiko," terang Byrnes.

Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.

Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari 18 bulan," ungkap Byrnes.
Yang jadi masalah di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, tegas Byrnes, adalah kurangnya pelatihan guru-guru agar terus menjadi lebih baik, tak adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua, dan kurang kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini lainnya.

Sebelum Dua Tahun, Jangan Ajarkan Anak Bedakan Kiri Kanan

KOMPAS.com - Dalam budaya ketimuran termasuk di Indonesia, penggunaan tangan kanan untuk melakukan kegiatan tertentu menjadi hal yang penting. Misalnya untuk berjabat tangan, makan, dan kegiatan lainnya yang dinilai membutuhan kesopanan. Sehingga tangan kanan pun kerap dicap sebagai tangan "baik". 

Sebenarnya sah-sah saja mengajari nilai tersebut pada si kecil supaya terbiasa sejak dini. Namun mengajarkan penggunaan tangan kanan pada anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya dihindari. Pasalnya hal itu akan mempengaruhi keseimbangan perkembangan otaknya.

"Sebelum dua tahun, jangan dulu ajarkan anak soal penggunaan tangan kanan dan kiri. Jika dia makan atau bersalaman dengan tangan kiri biarkan saja dulu, jangan dilarang," saran dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Soedjatmiko dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, pelarangan terhadap penggunaan tangan tertentu pada anak di bawah dua tahun akan menghambat perkembangan salah satu bagian otak. Padahal untuk mendapatkan kecerdasan multipel, seluruh bagian otak anak perlu berkembang secara optimal.

Jika melarang penggunaan tangan kiri untuk meraih benda, makan, atau bersalaman, maka perkembangan otak kanan tidak optimal. Sementara perkembangan otak kiri mungkin berjalan dengan lebih baik sehingga saat dewasa anak akan lebih banyak mengunakan otak kirinya. Artinya, kreativitasnya bisa jadi kurang baik.

Kenapa sebelum dua tahun? Soedjatmiko menjelaskan, otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan tumbuh dan berkembang paling pesat. Sekitar 80 persen dari perkembangan otak terjadi di masa tersebut.

Seribu hari dihitung sejak konsepsi dan di dalam kandungan (270 hari) dan hingga usia dua tahun (730 hari). Itulah mengapa tidak optimalnya perkembangan otak di masa itu akan sangat mempengaruhi kemampuan anak di kemudian hari.

Untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya, Soedjatmiko menyarankan untuk memperhatikan tiga hal. Pertama, nutrisi harus lengkap dan seimbang. Kedua, tumbuh kembang anak perlu terukur setiap bulan meliputi tinggi dan berat badan, serta lingkar kepala.

Selain itu, anak juga membutuhkan pola pengasuhan yang meliputi kasih sayang dan cara mendidik yang tepat. "Jika semua itu terpenuhi maka anak mampu tumbuh menjadi orang yag cerdas, sehat, kreatif, dan berperilaku baik," pungkasnya.

Sumber : http://health.kompas.com/

Anak Belajar Norma Lewat Interaksi dengan Orang Tua

KOMPAS.com – Anak yang kebanjiran informasi akan lebih mudah terpapar hal negatif. Tanpa pendampingan orangtua, kondisi ini mengakibatkan anak akan kesulitan memilah informasi. Karenanya, peran orangtua untuk berinteraksi dengan anak dan mendampinginya menjadi penting. 

Menurut para pakar, minimnya pendampingan orangtua berdampak pada rendahnya pengendalian diri anak. Faktor ini berkaitan dengan terjadinya kasus pembunuhan Ade Sara oleh teman terdekatnya yang masih berusia remaja.

“Interaksi yang terbatas menyebabkan anak hanya mendapat sedikit pendampingan orangtua. Padahal anak sangat perlu pendampingan di era kemudahan akses informasi ini,” kata psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Indri Savitri, kepada Kompas Health. 

Memilah hal positif dan negatif

Menurut Indri, tanpa pendampingan dan interaksi dengan orangtua, anak cenderung menerima informasi negatif sebagai sesuatu yang wajar. Anak juga akan menganggap wajar bila ia menerapkan hal negatif yang dipahaminya tersebut kepada orang lain.

“Interaksi dan pendampingan yang minim mengakibatkan anak tidak mendapat pemahaman yang baik tentang norma dan berbagai hal positif lain, termasuk pengendalian diri. Akibatnya saat beranjak dewasa anak hanya berfikir seputar dirinya, tanpa memikirkan dampak perbuatannya pada orang lain,” kata Indri.

Berkaca dari kasus Ade Sara, Indri menyarankan orangtua sedapat mungkin mendampingi masa tumbuh kembang anak-anaknya. Pendampingan ini terus berlangsung hingga remaja saat anak memerlukan teman diskusi. Orangtua dan anak yang sering berdiskusi berdampak pada timbulnya pemahaman dalam diri anak mengenai nilai positif. Lewat komunikasi yang baik, anak akan menanamkan nilai positif tersebut yang berdampak pada pembentukan karakternya.

Belajar berkomunikasi yang baik

Pendampingan orangtua, lanjut Indri, juga diperlukan anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini termasuk cara berbicara, berkomunikasi, dan menyampaikan ketidaksukaan. Cara mengekspresikan diri sangat penting supaya anak tidak menyebabkan orang lain tersinggung. 

“Cara berkomunikasi ini sangat penting apalagi sekarang tak perlu bertemu wajah untuk berbicara. Penggunaan kata harus diatur sebaik mungkin sehingga anak bisa mengekspresikan dan membaca perasaan orang lain, terutama dalam berbagai media sosial. Anak juga harus bisa mengendalikan diri dalam forum maya seperti itu,” kata Indri.

Menyelesaikan masalah lebih objektif

Hal lain yang bisa diperoleh dari pendampingan adalah kemampuan anak memandang masalah secara objektif ketika dewasa. Dengan penanaman karakter dan norma yang kuat, anak akan berusaha menghadapi berbagai masalah dengan pikiran jernih ketika dewasa. Anak akan terbiasa fokus mencari jalan keluar, menemukan penyelesaian masalah yang tidak semata mengumbar emosi. 

Dengan mengetahui pentingnya pendampingan, Indri berharap orangtua tidak lagi meremehkan interaksi dengan anak. Bagaimanapun orangtua harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak terutama dalam menanggapi berbagai informasi yang beredar. Harapannya, tidak ada lagi kasus Ade Sara berikutnya. 

Pengendalian diri

Kasus Ade Sara membuktikan rendahnya kontrol diri pada remaja akibat minimnya pendampingan dan interaksi orangtua. 

“Kalau dilihat dari caranya melakukan pembunuhan, pelaku kemungkinan hanya ingin membalas dendam. Namun, di tengah jalan, emosi memuncak dan terjadi hal yang di luar perkiraan. Seandainya kontrol diri lebih baik maka pembunuhan mungkin bisa dihindari,” kata psikolog forensik, Reza Indragiri.

Sumber : http://health.kompas.com/

Definisi PAUD

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembanganjasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan danperkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
  1. Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
  2. Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
  • Infant (0-1 tahun)
  • Toddler (2-3 tahun)
  • Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
  • Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)
Satuan pendidikan penyelenggara
  • Taman Kanak-kanak (TK)
  • Raudatul Athfal (RA)
  • Bustanul Athfal (BA)
  • Kelompok Bermain (KB)
  • Taman Penitipan Anak (TPA)
  • Satuan PAUD Sejenis (SPS)
  • Sekolah Dasar Kelas Awal (kelas 1,2,3)
  • Bina Keluarga Balita
  • Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
  • Keluarga
  • Lingkungan

Senin, 17 Maret 2014

web hosting indonesia