Tanda-tanda berikut ini bisa dikenali sejak bayi berusia 1 tahun ke atas. Apabila Anda menemukan salah satu tanda berikut ini, Anda patut "curiga". Konsultasikan hal ini kepada dokter anak Anda.
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 April 2014
Rabu, 19 Maret 2014
Si Kecil yang Mulai Bersosialisasi
Usia 6 – 12 bulan. Sampai usia sekitar 8 bulanan si kecil sibuk untuk terus melihat dunianya, namun responnya hanya sekedar melalui pandangannya yang lucu, senyumnya yang imut, keinginannya untuk meraih barang-barang di sekitarnya, serta ocehan-ocehan lucunya. Di usia ini juga, si kecil bisa bermain bersama-sama dengan bayi yang lain, namun terbatas dengan kemampuan di atas. Si kecil belum bisa berinteraksi, belum bisa memahami sampai tahapan berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, biasanya di akhir usianya satu tahun si kecil mengalami sifat anti sosial. Tidak mau ditinggal sendiri, dan mengekspresikan dengan tangisannya yang keras, namun kembali tenang jika ibu sudah ada di dekatnya.
Lalu pada Tahun kedua si kecil. Seiring dengan kemampuan berdiri dan berjalannya, si kecil akan semakin aktif dan tertarik dengan segala sesuatu di sekitarnya. Disertai dengan kemampuannya belajar berbicara, si kecil mulai suka bersosialisasi. Bermain dengan teman-teman sebayanya, atau mengikuti gerombolan anak-anak lainnya di sekitar lingkungannya. Namun, diusia ini juga keegoisan si kecil mulai muncul, si kecil mulai sadar tentang barang yang dimilikinya. Si kecilpun tak ingin berbagi dan ingin semua dimilikinya. Ini merupakan tahapan normal, arahkan saja perkembangannya dengan baik, tunjukkan kehidupan berbagi dan coba terus mengarahkan ke arah positif.
Anak usia 3-4 tahun masih tetap suka bermain sendiri. Tetapi dia memilih lokasi yg masih berdekatan dengan anak lain, dalam tahap ini mereka akan semakin mendekati bentuk permainanyang memerlukan kerjasama, bahkan meskipun mereka memiliki sifat yg egosentris tetapi di masa ini seorang anak sudah mulai menginginkan mainan milik temannya sehingga secara tidak langsung mereka saling mendekati dan ingin main bersama.
Pada periode ini dimana terjadi perubahan yang cepat untuk kebanyakan anak. Mereka sibuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru meraih tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Anak-anak dalam masa ini belajar untuk mengendalikan dan mengarahkan perasaannya. Secara social, mereka sudah mampu untuk diajak bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan orang dewasa, contohnya ketikamereka bermain bersama dalam kelompok mereka mampu memahami peraturan dengan lebih baik , bahkan terkadang menuntut teman lain untuk mematuhi peraturan tersebut.
Guru dan orang tua harusnya menyadari perasaan emosi mereka dan harus sensitif terhadap ungkapan anak-anak tersebut. Suatu hal yang sulit anak-anak ini adalah untuk menyesuaikan diri dengan langkah mereka sendiri. Contoh mereka akan berusaha keras untuk melakukan banyak hal sendirian, dan perkembangan anak juga bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya dan terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.
Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya. Selain itu Ada baiknya sejak dini orang tua mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.
Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita (3 – 5tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date. Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering.
Selasa, 18 Maret 2014
Sebelum Dua Tahun, Jangan Ajarkan Anak Bedakan Kiri Kanan
KOMPAS.com - Dalam budaya ketimuran termasuk di Indonesia, penggunaan tangan kanan untuk melakukan kegiatan tertentu menjadi hal yang penting. Misalnya untuk berjabat tangan, makan, dan kegiatan lainnya yang dinilai membutuhan kesopanan. Sehingga tangan kanan pun kerap dicap sebagai tangan "baik".
Sebenarnya sah-sah saja mengajari nilai tersebut pada si kecil supaya terbiasa sejak dini. Namun mengajarkan penggunaan tangan kanan pada anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya dihindari. Pasalnya hal itu akan mempengaruhi keseimbangan perkembangan otaknya.
"Sebelum dua tahun, jangan dulu ajarkan anak soal penggunaan tangan kanan dan kiri. Jika dia makan atau bersalaman dengan tangan kiri biarkan saja dulu, jangan dilarang," saran dokter spesialis anak dari Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Soedjatmiko dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pelarangan terhadap penggunaan tangan tertentu pada anak di bawah dua tahun akan menghambat perkembangan salah satu bagian otak. Padahal untuk mendapatkan kecerdasan multipel, seluruh bagian otak anak perlu berkembang secara optimal.
Jika melarang penggunaan tangan kiri untuk meraih benda, makan, atau bersalaman, maka perkembangan otak kanan tidak optimal. Sementara perkembangan otak kiri mungkin berjalan dengan lebih baik sehingga saat dewasa anak akan lebih banyak mengunakan otak kirinya. Artinya, kreativitasnya bisa jadi kurang baik.
Kenapa sebelum dua tahun? Soedjatmiko menjelaskan, otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan tumbuh dan berkembang paling pesat. Sekitar 80 persen dari perkembangan otak terjadi di masa tersebut.
Seribu hari dihitung sejak konsepsi dan di dalam kandungan (270 hari) dan hingga usia dua tahun (730 hari). Itulah mengapa tidak optimalnya perkembangan otak di masa itu akan sangat mempengaruhi kemampuan anak di kemudian hari.
Untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya, Soedjatmiko menyarankan untuk memperhatikan tiga hal. Pertama, nutrisi harus lengkap dan seimbang. Kedua, tumbuh kembang anak perlu terukur setiap bulan meliputi tinggi dan berat badan, serta lingkar kepala.
Selain itu, anak juga membutuhkan pola pengasuhan yang meliputi kasih sayang dan cara mendidik yang tepat. "Jika semua itu terpenuhi maka anak mampu tumbuh menjadi orang yag cerdas, sehat, kreatif, dan berperilaku baik," pungkasnya.
Sumber : http://health.kompas.com/
Anak Belajar Norma Lewat Interaksi dengan Orang Tua
KOMPAS.com – Anak yang kebanjiran informasi akan lebih mudah terpapar hal negatif. Tanpa pendampingan orangtua, kondisi ini mengakibatkan anak akan kesulitan memilah informasi. Karenanya, peran orangtua untuk berinteraksi dengan anak dan mendampinginya menjadi penting.
Menurut para pakar, minimnya pendampingan orangtua berdampak pada rendahnya pengendalian diri anak. Faktor ini berkaitan dengan terjadinya kasus pembunuhan Ade Sara oleh teman terdekatnya yang masih berusia remaja.
“Interaksi yang terbatas menyebabkan anak hanya mendapat sedikit pendampingan orangtua. Padahal anak sangat perlu pendampingan di era kemudahan akses informasi ini,” kata psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Indri Savitri, kepada Kompas Health.
Memilah hal positif dan negatif
Menurut Indri, tanpa pendampingan dan interaksi dengan orangtua, anak cenderung menerima informasi negatif sebagai sesuatu yang wajar. Anak juga akan menganggap wajar bila ia menerapkan hal negatif yang dipahaminya tersebut kepada orang lain.
“Interaksi dan pendampingan yang minim mengakibatkan anak tidak mendapat pemahaman yang baik tentang norma dan berbagai hal positif lain, termasuk pengendalian diri. Akibatnya saat beranjak dewasa anak hanya berfikir seputar dirinya, tanpa memikirkan dampak perbuatannya pada orang lain,” kata Indri.
Berkaca dari kasus Ade Sara, Indri menyarankan orangtua sedapat mungkin mendampingi masa tumbuh kembang anak-anaknya. Pendampingan ini terus berlangsung hingga remaja saat anak memerlukan teman diskusi. Orangtua dan anak yang sering berdiskusi berdampak pada timbulnya pemahaman dalam diri anak mengenai nilai positif. Lewat komunikasi yang baik, anak akan menanamkan nilai positif tersebut yang berdampak pada pembentukan karakternya.
Belajar berkomunikasi yang baik
Pendampingan orangtua, lanjut Indri, juga diperlukan anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini termasuk cara berbicara, berkomunikasi, dan menyampaikan ketidaksukaan. Cara mengekspresikan diri sangat penting supaya anak tidak menyebabkan orang lain tersinggung.
“Cara berkomunikasi ini sangat penting apalagi sekarang tak perlu bertemu wajah untuk berbicara. Penggunaan kata harus diatur sebaik mungkin sehingga anak bisa mengekspresikan dan membaca perasaan orang lain, terutama dalam berbagai media sosial. Anak juga harus bisa mengendalikan diri dalam forum maya seperti itu,” kata Indri.
Menyelesaikan masalah lebih objektif
Hal lain yang bisa diperoleh dari pendampingan adalah kemampuan anak memandang masalah secara objektif ketika dewasa. Dengan penanaman karakter dan norma yang kuat, anak akan berusaha menghadapi berbagai masalah dengan pikiran jernih ketika dewasa. Anak akan terbiasa fokus mencari jalan keluar, menemukan penyelesaian masalah yang tidak semata mengumbar emosi.
Dengan mengetahui pentingnya pendampingan, Indri berharap orangtua tidak lagi meremehkan interaksi dengan anak. Bagaimanapun orangtua harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak terutama dalam menanggapi berbagai informasi yang beredar. Harapannya, tidak ada lagi kasus Ade Sara berikutnya.
Pengendalian diri
Kasus Ade Sara membuktikan rendahnya kontrol diri pada remaja akibat minimnya pendampingan dan interaksi orangtua.
“Kalau dilihat dari caranya melakukan pembunuhan, pelaku kemungkinan hanya ingin membalas dendam. Namun, di tengah jalan, emosi memuncak dan terjadi hal yang di luar perkiraan. Seandainya kontrol diri lebih baik maka pembunuhan mungkin bisa dihindari,” kata psikolog forensik, Reza Indragiri.
Sumber : http://health.kompas.com/
Langganan:
Postingan (Atom)




