Health Canada, Canadian Pediatric Society, American Academy of Pediatrics, IBFAN, UNICEF, WHO Global Strategies on Infant Feeding dan sebagian besar ikatan dokter anak di seluruh dunia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai dengan enam bulan. Banyak tenaga kesehatan yang menyarankan pemberian makanan padat sejak usia empat bulan; banyak juga yang sekarang mengatakan jangan memberikan makanan padat sebelum usia enam bulan. Bagaimanapun, kebanyakan bayi baik-baik saja dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan atau bahkan sedikit lebih lama. Sebaiknya Anda mulai memberikan makanan padat saat bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk makanan makanan padat, bukan berdasarkan kalender. Berikut pembahasannya.
Tampilkan postingan dengan label Anak-Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-Anak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Maret 2014
Jumat, 21 Maret 2014
Pentingnya Pemenuhan Gizi Sejak Usia Dini
KOMPAS.com - Setiap orangtua pasti mendambakan buah hatinya tumbuh sehat dancerdas hingga kelak ia dewasa. Untuk mencapai target tersebut, tentu para orangtua membutuhkan dan menerapkan “strategi” yang tepat. Salah satunya pemenuhan gizi sejak dini.
Seperti dikatakan Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, ahli gizi medis dari Perhimpunan NutrisiIndonesia serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tumbuh-kembang anak dipengaruhi oleh pemenuhan gizi tidak hanya sejak lahir, akan tetapi justru sejak terjadinya kehamilan.
Nah, berikut ini beberapa manfaat dari pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, yaitu:
-Memelihara kesehatan
Gizi terkait erat dengan kesehatan yang optimal serta peningkatan kualitas hidup. Bahkan dalam proses pengobatan, gizi membantu sebagai upaya uamg efektif dalam pemulihan. Berdasarkan perkembangan ilmiah dibidang medis dan biologi molekul, gizi ternyata dapat menjaga fungsi optimal tubuh serta mencegah atau membantu penanganan penyakit.
-Meningkatkan kekebalan tubuh
Nutrisi yang baik dapat memberikan tubuh akan bahan gizi yang dibutuhkan sel-sel kekebalan untuk melawan kuman penyakit. Jadi, tubuh akan memiliki sistem kekebalan sehingga lebih kuat ketika terpapar kuman, virus ataupun lainnya. Tubuh jadi tak mudah sakit dan terjaga terus kesehatannya.
-Sumber energi
Asupan gizi yang baik dengan pola makan yang sehat dapat menghasilkan tambahan daya untuk digunakan aktivitas sehari-hari.
Cegah kurang gizi
Sebaliknya, kurang gizi, berdampak kurangnya zat-zat yang dibutuhkan tubuh sehingga anak berisiko mengalami gangguan gizi. Kurang gizi sebagai kondisi karena kurangnya nutrisi penting.
Kurang gizi membuat tubuh lemah sehingga mudah terserang penyakit. Efek selanjutnya, memengaruhi pertumbuhan, kesehatan fisik, fungsi-fungsi tubuh, perilaku bahkan suasana hati. Kurang gizi juga menimbulkan risiko infeksi dengan diare, malaria, campak, serta infeksi saluran napas pada anak-anak.
Seperti dikutip http://www.news-medical.net, gizi buruk atau malnutrisi menjadi penyebab kematian terhadap lebih dari sepertiga anak di seluruh dunia. Masalah kurang gizi menjadi penyebab penyakit dan kematian di seluruh dunia yang melibatkan populasi terbesar dari anak-anak dan wanita hamil. Kekurangan gizi penyebab kematian 300.000 orang di seluruh dunia.
Secara umum, seseorang yang mengalami kurang gizi mengalami penurunan berat badan dalam tiga bulan terakhir hingga 10 persen. Gejala yang tampak berupa kelelahan, anemia, perubahan kulit, rambut dan kuku. Anak dengan kurang gizi juga tampak kurang mampu berkonsentrasi, tinggi badan kurang aau terhambat pertumbuhannya.
Untuk mengetahui kurang gizi atau tidak, dilakukan pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT) atau BMI (body mass index). Perhitungan berat badan anak selain menggunakan IMT juga memerlukan grafik tumbuh kembang yang disebut dengan grafik IMT-persentil. Selain itu, grafik tersebut berbeda antara perempuan dan laki-laki .Tes diagnostik lainnya termasuk tes darah rutin untuk deteksi anemia, infeksi kronis dan lain-lain.
Untuk mencegah hal tersebut, perlu strategi atau perencanaan pola makan dengan gizi seimbang. Dengan begitu, diharapkan hal-hal yang tak diinginkan tersebut tak terjadi pada buah hati kita.
Sumber : http://health.kompas.com/
Jangan menyusui anak hingga berusia lebih dari 2 tahun!
Merdeka.com - Sebuah penelitian seperti dilansir dari torontosun.com menyebutkan bahwa anak-anak yang disusui hingga melewati usia lebih dari 2 tahun akan memiliki kemungkinan besar untuk menderita gigi berlubang atau bentuk lain dari kerusakan gigi.
Penelitian yang dilakukan di Porto Alegre, Brasil ini menggunakan 458 keluarga berpenghasilan rendah sebagai sampel penelitiannya. Dan penelitian ini menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI selama lebih dari 2 tahun berisiko tinggi untuk terkena kerusakan gigi.
"Ketika menyusu, gigi dan mulut bayi akan menempel dalam waktu yang lama di puting si ibu. Bahkan kecenderungan, mulut bayi akan menempel dalam waktu semalaman. Hal inilah yang kemudian menghalangi produksi air liur. Padahal air liur berfungsi untuk menghilangkan bakteri penyebab kerusakan gigi di dalam mulut," jelas William Bowen, peneliti Center for Oral Biology at the University of Rochester Medical Center di New York.
Atas kecenderungan inilah, maka dia menyarankan agar orang tua segera menyapih bayi dari ASI di usia yang tepat. Dan tidak lupa untuk membawa anak mereka untuk melakukan kegiatan pemeriksaan gigi ketika gigi pertama mereka muncul atau selambat-lambatnya di ulang tahun pertama mereka.
Sumber : http://www.merdeka.com/
Rabu, 19 Maret 2014
Si Kecil yang Mulai Bersosialisasi
Usia 6 – 12 bulan. Sampai usia sekitar 8 bulanan si kecil sibuk untuk terus melihat dunianya, namun responnya hanya sekedar melalui pandangannya yang lucu, senyumnya yang imut, keinginannya untuk meraih barang-barang di sekitarnya, serta ocehan-ocehan lucunya. Di usia ini juga, si kecil bisa bermain bersama-sama dengan bayi yang lain, namun terbatas dengan kemampuan di atas. Si kecil belum bisa berinteraksi, belum bisa memahami sampai tahapan berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, biasanya di akhir usianya satu tahun si kecil mengalami sifat anti sosial. Tidak mau ditinggal sendiri, dan mengekspresikan dengan tangisannya yang keras, namun kembali tenang jika ibu sudah ada di dekatnya.
Lalu pada Tahun kedua si kecil. Seiring dengan kemampuan berdiri dan berjalannya, si kecil akan semakin aktif dan tertarik dengan segala sesuatu di sekitarnya. Disertai dengan kemampuannya belajar berbicara, si kecil mulai suka bersosialisasi. Bermain dengan teman-teman sebayanya, atau mengikuti gerombolan anak-anak lainnya di sekitar lingkungannya. Namun, diusia ini juga keegoisan si kecil mulai muncul, si kecil mulai sadar tentang barang yang dimilikinya. Si kecilpun tak ingin berbagi dan ingin semua dimilikinya. Ini merupakan tahapan normal, arahkan saja perkembangannya dengan baik, tunjukkan kehidupan berbagi dan coba terus mengarahkan ke arah positif.
Anak usia 3-4 tahun masih tetap suka bermain sendiri. Tetapi dia memilih lokasi yg masih berdekatan dengan anak lain, dalam tahap ini mereka akan semakin mendekati bentuk permainanyang memerlukan kerjasama, bahkan meskipun mereka memiliki sifat yg egosentris tetapi di masa ini seorang anak sudah mulai menginginkan mainan milik temannya sehingga secara tidak langsung mereka saling mendekati dan ingin main bersama.
Pada periode ini dimana terjadi perubahan yang cepat untuk kebanyakan anak. Mereka sibuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru meraih tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Anak-anak dalam masa ini belajar untuk mengendalikan dan mengarahkan perasaannya. Secara social, mereka sudah mampu untuk diajak bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan orang dewasa, contohnya ketikamereka bermain bersama dalam kelompok mereka mampu memahami peraturan dengan lebih baik , bahkan terkadang menuntut teman lain untuk mematuhi peraturan tersebut.
Guru dan orang tua harusnya menyadari perasaan emosi mereka dan harus sensitif terhadap ungkapan anak-anak tersebut. Suatu hal yang sulit anak-anak ini adalah untuk menyesuaikan diri dengan langkah mereka sendiri. Contoh mereka akan berusaha keras untuk melakukan banyak hal sendirian, dan perkembangan anak juga bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya dan terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.
Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya. Selain itu Ada baiknya sejak dini orang tua mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.
Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita (3 – 5tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date. Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering.
Langganan:
Postingan (Atom)




